Al-Qamah dibakar Rasul

Dengan tergopoh-gopoh, isteri Al-Qamah menghadap Rasulullah SAW mengabarkan suaminya sakit keras. Beberapa hari mengalami naza’ tapi tak juga sembuh. “Aku sangat kasihan kepadanya ya Rasulullah,” ratap perempuan itu. Mendengar pengaduan wanita itu Nabi SAW merasa iba di hati. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk keadaan Al-Qamah. Keadaan Al-Qamah memang sudah dalam keadaan koma. Sahabat Bilal lalu menuntunnya membacakan tahlil di telinganya, anehnya seakan-akan mulut Al-Qamah rapat terkunci. Berulang kali dicoba, mulut itu tidak mau membuka sedikitpun. Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Al-Qamah. “Sudah kau coba menalqin di telinganya?” tanya Nabi.”Sudah Rasulullah, tetapi mulut itu tetap terbungkam rapat,” jawabnya.” Biarlah aku sendiri datang ke sana”, kata Nabi.

Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :”Masihkah kedua orang tuanya?” tanya Nabi.
“Masih ya Rasulullah,” tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta,” jawab isterinya.”
Di mana dia sekarang?”
“Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini.”

Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah. “Biarlah dia rasakan sendiri”, ujar ibu Al-Qamah. “Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?” tanya Nabi.

“Dia berbuat dosa kepadaku,” jawabnya singkat.
“Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosa anaknya,” bujuk Nabi.
“Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri,” kata ibu itu.
“Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir,” kata Rasulullah.
“Biarlah dia ke neraka dengan dosanya,” jawab ibu itu. Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : “Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya,” perintah Nabi.

“Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah,” tanya Bilal keheranan.”Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit”, jawab Rasulullah. Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, “Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku,” ratapnya. Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Memang, surga adalah di bawah telapak kaki ibunda.

Pasta Gigi

Zaman sekarang tak kenal pasta gigi rasanya aneh. Namun, di Cina, terutama di pedesaan, orang yang tak kenal alat itu cukup banyak, sampai 60 persen. Parahnya lagi, dari mereka yang terbiasa menyikat gigi, 90 persen “tidak menyikat gigi degan semestinya”.

Untuk membersihkan gigi, kebanyakan masyarakat Cina pedesaan tersebut menggunakan jari atau handuk. Lalu untuk kumur, orang desa lebih suka menggunakan air putih atau teh, yang kabarnya disukai juga oleh pemimpin mereka. Maka tak heran kalu gigi mereka berwarna kehihjauan.

Teruskan Impian menjadi Kenyataan

ELANG

Suatu ketika, di sebuah lereng, tersebutlah seonggok
sarang Elang. Di dalamnya terdapat 6 butir telur yang sedang dierami
induknya. Suatu hari, terjadi sebuah gempa kecil dan mengakibatkan
sebutir telur mengelinding ke bawah. Namun, induk Elang tak mengetahui
hal itu. Untunglah, telur itu kuat, sehingga kemudian benda itu malah
masuk ke dalam sebuah sangkar ayam. Seekor induk ayam yang sedang
mengeram, lalu malah memasukkan telur itu ke dalam buaian bersama
telur-telur ayam lainnya.

Beberapa saat kemudian, menetaslah
telur itu, dan keluarlah seekor anak Elang yang gagah. Namun,
sayangnya, ia dilahirkan di tengah keluarga ayam. Lama kemudian Elang
kecil itu, tumbuh bersama anak-anak ayam lainnya. Dan si Elang kecil
itupun percaya bahwa ia adalah seekor anak ayam. Ia juga mencintai
sangkar dan induk ayam, namun, ada keinginan lain di hati kecilnya.

Elang kecil itu, suatu ketika, melihat elang-elang besar yang sedang
mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa. Ia kagum sekali dengan
kegagahan mereka. “Oh,”…Elang kecil itu memekik, “Andai saja, aku
bisa terbang seperti burung-burung gagah itu.” katanya sambil menatap
langit. Anak-anak ayam lain tertawa mencericit. “Ha ha ha…kamu tak
akan bisa terbang bersama mereka, ” ujar seekor anak ayam, “Kamu adalah
ayam, dan ayam tak bisa terbang!” Hahahaha…. . Tawa anak-anak ayam itu
kembali memenuhi telinga si Elang kecil. “Oh, andai saja…” ujarnya
pelan. Elang kecil itu kembali menatap langit. Menatap keluarga yang
sebenarnya di atas sana.

Setiap waktu, saat Elang itu
mengungkapkan impiannya, ia selalu diberi nasehat, bahwa itu adalah hal
yang mustahil yang bisa dilakukannya. Dan hal itulah yang terus
dipelajari oleh si Elang, bahwa, ia tak mungkin bisa terbang, dan
mengepakkan sayapnya di angkasa. Lama kemudian, si Elang berhenti
bermimpi, dan melanjutkan hidupnya sebagai ayam biasa. Akhirnya,
setelah sekian lama hidup menderita, dikekang dengan semua impiannya,
si Elang pun mati.

RENUNGAN :

Teman, ini adalah sebuah amsal yang baik tentang kehidupan. Ini, adalah sebuah
permisalan yang indah tentang makna harapan dan impian-impian. Ada
banyak sekali asa dan hasrat, yang akhirnya pupus, karena, hilangnya
rasa percaya dalam kalbu. Ada banyak sekali harapan-harapan, yang
hilang, hanya karena kita tak percaya dengan semua kemampuan yang kita
miliki.

Teman, kita semua adalah Elang-Elang kecil, yang –bisa
jadi– lahir dalam buaian ayam. Kita semua adalah manusia-manusia
hebat, yang punya banyak potensi. Allah berikan banyak anugrah buat
kita, namun, seringkali, rasa percaya diri itu begitu kecil, tak mampu
membuat kita yakin, bahwa kita mampu, bahwa kita bisa. Allah berikan
banyak sekali rahmat, namun seringkali itu semua itu tak membuat kita
makin bersyukur, dan mau menjadikannya sebagai pendorong dalam hati.

Teman,
kita akan menjadi apa yang kita percayai. Jadi, saat kita bermimpi
untuk menjadi “elang”, teruskan impian tadi, dan coba, abaikan dulu
nasehat “ayam-ayam” itu. Karena siapa tahu, kita adalah calon
“elang-elang” yang akan lahir dan mengepakkan sayap dengan indah di
angkasa.

(Kata Tanya) أَدَوَاتُ الاِسْتِفْهَام


Di bawah ini dicantumkan sejumlah Kata Tanya dengan contohnya masing-masing dalam kalimat beserta contoh jawabannya:

Kata Tanya

Contoh Kalimat Tanya Contoh Jawaban
هَلْ / أَ هَلْ أََنْتَ مَرِيْضٌ ؟ لاَ، أَنَا فِيْ صِحَّةٍ

(=apakah)

(=apakah engkau sakit?)

(=tidak, saya sehat)

مَاذَا / مَا

مَاذَا تَكْتُبُ ؟

أَكْتُبُ رِسَالَةً

(=apa)

(=apa yang kau tulis?)

(=aku menulis surat)

مَنْ ذَا / مَنْ

مَنْ كَتَبَ هَذَا ؟ أَحْمَدُ كَتَبَ هَذَا

(=siapa)

(=siapa yang menulis ini?)

(=Ahmad yang menulis ini)

أَيَّةُ / أَيُّ

أَيُّ قَلَمٍ تُحِبُّ ؟ أُحِبُّ قَلَمَ اْلأَسْوَدِ

(=yang mana)

(=pena yang mana kau suka?) (=aku suka pena yang hitam)

مَتَى

مَتَى تَذْهَبُ ؟

أَذْهَبُ غَدًا

(=kapan)

(=kapan engkau pergi?)

(=aku pergi besok)

أَيْنَ

أَيْنَ تَذْهَبُ ؟

أَذْهَبُ إِلَى الْقَرْيَةِ

(=dimana)

(=dimana engkau pergi?)

(=aku pergi ke kampung)

كَيْفَ

كَيْفَ تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ بِالْحَافِلَةِ

(=bagaimana)

(=bagaimana engkau pergi?)

(=aku pergi dengan bus)

كَمْ

كَمْ يَوْمًا تَذْهَبُ ؟ أَذْهَبُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ

(=berapa)

(=berapa hari engkau pergi?)

(=aku pergi selama tiga hari)

لِمَاذَا / لِمَا

لِمَاذَا تَأَخَّرْتَ ؟

الطَّرِيْقُ مُزْدَحِمَةٌ

(=mengapa)

(=mengapa kau terlambat?) (=jalanan macet)

لِمَ

لِمَ سَأَلْتَ ذَلِكَ ؟ حَقِيْقَةً لاَ أَفْهَمُ

(=kenapa)

(=kenapa kau bertanya itu?) (=sungguh aku tidak paham)

لِمَنْ

لِمَنْ هَذَا الْقَلَمُ ؟

هَذَا قَلَمُ أَحْمَدِ

(=punya siapa)

(=kepunyaan siapa pena ini?)

(=ini pena Ahmad)

Isim Dhamir

Dhamir atau “kata ganti” ialah Isim yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili penyebutan sesuatu/seseorang maupun sekelompok benda/orang. Dhamir termasuk dalam golongan Isim Ma’rifah.

Contoh:

أَحْمَدُ يَرْحَمُ اْلأَوْلاَدَ = Ahmad menyayangi anak-anak
هُوَ يَرْحَمُهُمْ = Dia menyayangi mereka

Pada contoh di atas, kata أَحْمَدُ diganti dengan هُوَ (=dia), sedangkan الأَوْلاَد (=anak-anak) diganti dengan هُمْ (=mereka).
Kata هُوَ dan هُمْ dinamakan Dhamir atau Kata Ganti.

Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:

1) DHAMIR RAFA’ ( ضَمِيْر رَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
2) DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْر نَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.

Dhamir Rafa’ dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.

Dalam kalimat: هُوَ يَرْحَمُهُمْ (= Dia menyayangi mereka):
- Kata هُوَ (=dia) adalah Dhamir Rafa’, sedangkan:
- Kata هُمْ (=mereka) adalah Dhamir Nashab.

Belajar Bahasa Arab Yuk…

Para pembaca yang terhormat, kalau kita melihat kenyataan, bahwa peminat untuk mempelajari bahasa Arab tentunya lebih sedikit dibandingkan dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama International.

Memang, kita semua tidak bisa memungkiri hal itu. Namun, menurut hemat saya, tidak juga salah kalau kita harus melirik bahasa Arab sebagai salah satu bahasa Asing yang juga merupakan salah bahasa International, meskipun penggunanya tidak sebanyak bahasa Inggris.

Terlebih lagi, apabila kita sebagai seorang Muslim, sebagai ummatnya nabi Muhammad yang diutus kepada kaum yang berbahasa Arab, dengan Al-Qur’an sebagai mu’jizatnya yang juga diturunkan dengan berbahasa Arab, dan juga menurut suatu riwayat bahasa yang digunakan oleh penghuni syurga adalah bahasa Arab.

But, terlepas dari itu semua, kalau kita paham bahasa Arab, kita dapat dengan mudah memahami isi kandungan Al-Qur’an, sebagai kitab yang berisi petunjuk bagi kita semua untuk menuju keselamatan dunia hingga akhirat.

So,..what are we wating for ???

Fi’il dan perubahan bentuknya berdasarkan dhamir

فِعْل
FI’IL (Kata Kerja)

Fi’il atau Kata Kerja dibagi atas dua golongan besar menurut waktu terjadinya:
1. FI’IL MADHY (
فِعْل مَاضِي ) atau Kata Kerja Lampau.
2. FI’IL MUDHARI’ (
فِعْل مُضَارِع ) atau Kata Kerja Kini/Nanti.

Baik Fi’il Madhy maupun Fi’il Mudhari’, senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai dengan jenis Dhamir dari Fa’il ( فَاعِل ) atau Pelaku pekerjaan itu.
Untuk Fi’il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi’il Mudhari’, perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.

Dhamir Fi’il Madhy Fi’il Mudhari’ Tarjamah
أَنَا

فَعَلْتُ

أَفْعَلُ = saya mengerjakan
نَحْنُ فَعَلْنَا نَفْعَلُ = kami mengerjakan
أَنْتَ فَعَلْتَ تَفْعَلُ = engkau (lk) mengerjakan
أَنْتِ فَعَلْتِ تَفْعَلِيْنَ = engkau (pr) mengerjakan
أَنْتُمَا فَعَلْتُمَا تَفْعَلاَنِ = kamu berdua mengerjakan
أَنْتُمْ فَعَلْتُمْ تَفْعَلُوْنَ = kalian (lk) mengerjakan
أَنْتُنَّ فَعَلْتُنَّ تَفْعَلْنَ = kalian (pr) mengerjakan
هُوَ فَعَلَ يَفْعَلُ = dia (lk) mengerjakan
هِيَ فَعَلَتْ تَفْعَلُ = dia (pr) mengerjakan
هُمَا فَعَلاَ يَفْعَلاَنِ = mereka berdua (lk) mengerjakan
هُمَا فَعَلَتَا تَفْعَلاَنِ = mereka berdua (pr) mengerjakan
هُمْ

فَعَلُوْا

يَفْعَلُوْنَ = mereka (lk) mengerjakan
هُنَّ فَعَلْنَ يَفْعَلْنَ = mereka (pr) mengerjakan

Perlu diketahui, bahwa dalam sebuah JUMLAH FI’LIYYAH ( جُمْلَة فِعْلِيَّة ) atau Kalimat Verbal (kalimat sempurna yang mengandung Kata Kerja), letak Fa’il (Pelaku) bisa di depan dan bisa pula di belakang Fi’il (Kata Kerja).

1) Untuk Dhamir Ghaib atau “orang ketiga” ( هُنَّ - هُمْ - هُمَا - هِيَ - هُوَ ).

a. Bila Fa’il mendahului Fi’il maka perubahan bentuk dari Fi’il tersebut harus mengikuti ketentuan Mudzakkar/Muannats dan Mufrad/Mutsanna/Jamak.

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Madhy yang terletak setelah Fa’il:

اَلْمُسْلِمُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَةُ دَخَلَتِ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَانِ دَخَلاَ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَتَانِ دَخَلَتَا الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمُوْنَ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَاتُ دَخَلْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Mudhari’ yang terletak setelah Fa’il:

اَلْمُسْلِمُ يَدْخُلُ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَةُ تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَانِ يَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَتَانِ تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمُوْنَ يَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَاتُ يَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

b. Sedangkan bila Fi’il mendahului Fa’il, maka bentuk Fi’il tersebut selalu Mufrad, (meskipun Fa’il-nya Mutsanna atau Jamak). Tetapi untuk bentuk Mudzakkar dan Muannats tetap dibedakan dengan adanya huruf Ta Ta’nits ( ت تَأْنِيْث ) atau “Ta Penanda Muannats” pada Fi’il yang Fa’il-nya adalah Muannats.

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Madhy yang terletak sebelum Fa’il:

دَخَلَ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

دَخَلَتِ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

دَخَلَ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

دَخَلَتِ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

دَخَلَ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

دَخَلَتِ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi’liyyah dengan Fi’il Mudhari’ yang terletak sebelum Fa’il:

يَدْخُلُ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

تَدْخُلُ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

يَدْخُلُ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

تَدْخُلُ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

يَدْخُلُ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

تَدْخُلُ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

2) Untuk Fa’il lainnya ( أَنْتُنَّ أَنْتُمْأَنْتُمَاأَنْتَأَنْتِنَحْنُأَنَا )

tetap mengikuti pola perubahan bentuk Fi’il sebagaimana mestinya.

Fi’il Madhy

Fi’il Mudhari’

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ (أَنَا) أَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
saya telah memasuki masjid saya memasuki masjid
دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ (نَحْنُ) نَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
kami telah memasuki masjid kami memasuki masjid
دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ (أَنْتَ) تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ
engkau telah memasuki masjid

engkau memasuki masjid

دَخَلْتِ الْمَسْجِدَ (أَنْتِ) تَدْخُلِيْنَ الْمَسْجِدَ
engkau (pr) telah memasuki masjid engkau (pr) memasuki masjid
دَخَلْتُمَا الْمَسْجِدَ (أَنْتُمَا) تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ
kamu berdua telah memasuki masjid kamu berdua memasuki masjid
دَخَلْتُمُ الْمَسْجِدَ (أَنْتُمْ) تَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَ
kalian (lk) telah memasuki masjid kalian (lk) memasuki masjid
دَخَلْتُنَّ الْمَسْجِدَ (أَنْتُنَّ) تَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَ
kalian (pr) telah memasuki masjid kalian (pr) memasuki masjid

Cerita tentang Katak Kecil

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil,…
… yang menggelar lomba lari
Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.

Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikanÂ
perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta…

Perlombaan dimulai…

Secara jujur:

Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai
puncak menara.

Terdengar suara:

“Oh, jalannya terlalu sulitttt!!

Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.”

atau:

“Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menarany a terlalu tinggi…!!

Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu…

… Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan
semakin tinggi…dan semakin tinggi..

Penonton terus bersorak

“Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!”

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah…

…Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi…

Dia tak akan menyerah!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu
katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang
berhasil mencapai puncak!

SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan
kekuatan untuk mencapai tujuan?

Ternyata…

Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

Kata bijak dari cerita ini adalah:

Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif
ataupun pesimis…

…karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu.

Selalu pikirkan kata2 bertuah yang ada.

Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi
perilakumu!

Karena itu:

Tetaplah selalu….

POSITIVE!

Dan yang terpenting:
Berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa
menggapai cita-citamu!
Selalu berpikirlah:

I can do this!

CANGKIR YANG CANTIK

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda putar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku pusing. Stop! Stop! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang.

Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku piker, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tak percaya, karena dihadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Renungan :

Seperti inilah Allah SWT membentuk kita. Pada saat Allah SWT membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.

“Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuuh tak kekurangan suatu apapun.”

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapisetelah semua prose situ selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Allah SWT membentuk Anda.

Kegagalan dan Kebangkitan

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh (Confusius)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.